Merencanakan solo trip Taiwan budget transportasi itu rasanya campur aduk: semangat karena Taiwan terkenal nyaman untuk jalan sendiri, tapi juga deg-degan soal pengeluaran dan cara pindah-pindah tempat tanpa nyasar. Kabar baiknya, Taiwan punya transportasi publik yang rapi, petunjuk yang ramah turis, dan pilihan biaya yang fleksibel—mulai dari gaya backpacker sampai “hemat tapi tetap enak”.
Di panduan ini, kamu akan menemukan cara menyusun budget yang realistis, strategi hemat yang benar-benar kepakai di lapangan, sampai contoh rute transportasi yang gampang diikuti (dari bandara, keliling kota, hingga antar kota). Targetnya sederhana: kamu bisa jalan sendiri dengan percaya diri, tanpa overbudget dan tanpa drama “kok keretanya beda jalur?”.
Taiwan bisa terasa “murah” atau “mahal” tergantung gaya jalanmu. Faktor terbesar biasanya ada di tiket pesawat dan akomodasi. Setelah itu, biaya harian cenderung stabil karena makanan kaki lima dan transportasi publik relatif terjangkau. Sebagai patokan kasar:
Kalau kamu mengincar solo trip Taiwan budget transportasi dengan gaya hemat, yang paling penting bukan “menekan semua biaya”, melainkan memilih pengeluaran yang paling berdampak: lokasi menginap dekat stasiun, kartu transport, dan itinerary yang minim bolak-balik.
Aturan masuk Taiwan untuk WNI bisa berubah sesuai kebijakan terbaru. Ada pelancong yang menggunakan skema izin perjalanan tertentu, ada juga yang mengurus visa. Jadi, anggap bagian ini sebagai checklist: pastikan paspor masih berlaku, siapkan bukti tiket pulang/pergi, dan cek persyaratan terbaru (termasuk pengisian kartu kedatangan digital bila diwajibkan) sebelum hari H.
Taiwan cukup cashless, tapi uang tunai tetap penting—terutama untuk night market, toko kecil, atau bus tertentu. Strategi aman: bawa sedikit tunai untuk hari pertama, lalu ambil tambahan di ATM saat sudah di kota. Untuk transportasi dan belanja kecil, banyak pelancong mengandalkan EasyCard karena bisa dipakai di berbagai moda transportasi dan beberapa gerai ritel.
Koneksi internet adalah “alat navigasi” utama saat solo trip. Dengan internet, kamu bisa cek rute real-time, estimasi ongkos, dan jadwal kereta. Kalau budget terbatas, pilih paket data yang stabil; kalau ingin ribetnya minimal, ambil eSIM/ SIM lokal di bandara atau minimarket.
Kebanyakan pelancong masuk lewat Bandara Taoyuan. Opsi populernya:
Tips budget: jika kamu landing malam dan masih ada kereta/bus, itu biasanya pilihan terbaik. Tapi kalau kamu sudah lelah, taksi bisa jadi “biaya kenyamanan” yang layak—terutama jika dibagi dengan teman (kalau kebetulan kamu ketemu travel buddy di bandara).
Kalau kamu mendarat di Kaohsiung, akses ke kota biasanya lebih sederhana karena sistem transportnya juga rapi. Prinsipnya sama: pilih moda tercepat yang sesuai jam kedatangan, lalu pastikan penginapanmu tidak jauh dari stasiun utama.
Untuk solo traveler, MRT itu penyelamat. Stasiun bersih, signage cukup jelas, dan jadwalnya konsisten. Cara pakainya simpel: tap kartu saat masuk, tap lagi saat keluar. Pastikan saldo cukup, karena kamu tidak ingin “terkunci” di gate saat buru-buru.
Kalau itinerary kamu padat dan rutenya banyak di dalam kota, pertimbangkan day pass MRT. Harganya bervariasi tergantung jenis pass dan durasi (misalnya 24 jam). Namun, kalau kamu tipe yang lebih banyak jalan kaki dan hanya naik MRT beberapa kali, top up biasa sering kali lebih hemat.
Bus di Taiwan bisa sangat membantu untuk area yang tidak dilewati MRT. Tantangannya: kamu harus teliti dengan halte dan arah. Pakai Google Maps, perhatikan nomor bus, dan jangan ragu tanya driver atau penumpang (biasanya mereka akan berusaha membantu). Untuk hemat waktu, pilih bus hanya ketika ia memang memotong rute jauh—bukan sekadar “coba-coba”.
Di beberapa area, sepeda publik (YouBike) bisa jadi opsi cepat dan murah, terutama untuk rute datar dan jarak 1–3 km. Cocok untuk area taman kota, tepi sungai, atau perpindahan dari stasiun ke spot yang “nanggung” kalau jalan kaki.
Jalan kaki itu bukan cuma hemat, tapi juga bikin kamu “kenal” kota. Banyak area wisata di Taipei yang enak dijelajahi dengan berjalan santai. Kuncinya: pakai sepatu nyaman dan susun itinerary per area supaya tidak bolak-balik lintas kota.
Kalau rencanamu bukan hanya Taipei, kamu akan bertemu tiga opsi utama: kereta cepat, kereta reguler, dan bus. Masing-masing punya “nilai” berbeda untuk budget.
Kereta kecepatan tinggi Taiwan (sering disebut THSR) cocok jika kamu ingin memangkas waktu perjalanan, misalnya Taipei–Taichung atau Taipei–Kaohsiung. Ini pilihan favorit untuk itinerary singkat karena waktu tempuh jauh lebih singkat dibanding kereta reguler.
Kereta reguler (TRA) biasanya lebih ramah kantong, walau waktunya lebih panjang. Ini cocok untuk solo traveler yang menikmati perjalanan, ingin melihat kota-kota kecil, atau membuat trip “pelan-pelan”.
Bus antar kota bisa jadi opsi paling murah untuk rute tertentu. Namun, durasinya bisa lebih lama dan kenyamanannya bervariasi. Untuk perjalanan malam, bus bisa menghemat biaya penginapan, tapi pastikan kamu sanggup secara fisik dan aman dengan barang bawaan.
Kebocoran budget sering terjadi bukan karena kamu “boros”, tapi karena rute berantakan: bolak-balik lintas kota, salah pilih penginapan, atau terlalu banyak day trip jauh. Jadi, sebelum memesan apapun, lakukan ini:
Ini contoh rute yang fokus pada solo trip Taiwan budget transportasi—bukan itinerary “kejar semua tempat”, tapi itinerary yang realistis dan minim pindah penginapan.
Catatan: hari ini biasanya efektif memakai kartu transport isi ulang, karena intensitas naik-turun MRT cukup sering tapi masih fleksibel.
Supaya budget kamu kuat, pecah biaya jadi beberapa “pos” yang mudah dikontrol. Berikut template yang bisa kamu ikuti:
| Pos Pengeluaran | Apa saja isinya | Cara hemat tanpa menyiksa diri |
|---|---|---|
| Akomodasi | Hostel/hotel, pajak, deposit | Pilih dekat MRT, cek ulasan kebersihan & keamanan |
| Makan | 3x makan, minum, snack | Night market, set menu, bawa botol minum |
| Transport lokal | MRT, bus, sepeda | Gunakan kartu transport, susun rute per area |
| Transport antar kota | THSR/TRA/bus | Batasi pindah kota, pilih moda sesuai durasi trip |
| Tiket atraksi | Observatory, museum, theme spot | Pilih atraksi yang benar-benar kamu mau, cari hari gratis |
| Internet | SIM/eSIM, top up | Pilih paket data yang stabil, hindari paket “murah tapi lelet” |
| Cadangan | Hal tak terduga | Siapkan 10–15% dari total budget |
Setiap orang berbeda, tapi contoh berikut bisa jadi panduan “angka realistis” untuk menghindari overbudget. Angka di bawah bersifat perkiraan dan bisa berubah tergantung musim, lokasi, serta gaya belanja.
Trik yang sering berhasil: tentukan limit harian untuk makan dan transport, lalu biarkan pos “atraksi” lebih fleksibel. Dengan begitu, kamu tetap bisa menikmati spot favorit tanpa merasa bersalah setiap kali keluar uang.
Secara umum, banyak solo traveler merasa Taiwan nyaman karena transportnya tertib dan area publiknya ramai. Meski begitu, tetap terapkan kebiasaan standar: simpan barang berharga dengan aman, hindari gang sempit larut malam, dan bagikan itinerary singkat ke orang terdekat.
Tergantung intensitas perjalanan. Kalau kamu naik MRT berkali-kali dan rutenya padat, pass bisa menguntungkan. Kalau kamu banyak jalan kaki dan hanya naik beberapa kali, top up biasa sering lebih efisien.
Kalau trip singkat, biasanya lebih nyaman fokus di Taipei dan maksimal 1 day trip. Pindah kota memang seru, tapi bisa “memakan” waktu dan menambah biaya transport.
Kuncinya adalah rute yang rapi dan base yang tepat. Susun destinasi per area, pilih penginapan dekat stasiun, dan gunakan kartu transport agar tidak beli tiket berulang.
Sehari sebelum berangkat (atau malam pertama di Taipei), luangkan 10 menit untuk “menutup celah” yang sering bikin solo traveler keluar biaya tak terduga. Checklist sederhana ini terdengar sepele, tapi efeknya besar untuk ketenangan dan penghematan.
Kalau semua ini sudah aman, kamu akan lebih leluasa menikmati kota. Dan ketika kamu jalan sendiri, rasa “tenang” sering kali sama berharganya dengan hemat beberapa dolar.
Baca Juga: Mencicipi Street Food Taipei: Surga Kuliner Malam yang Wajib Dicoba
Pada akhirnya, solo trip Taiwan budget transportasi bukan tentang “seberapa pelit kamu bisa menahan diri”, tapi tentang memilih rute yang cerdas, menginap di lokasi strategis, dan memahami cara kerja transport lokal. Dengan itinerary yang realistis dan budget yang disusun per pos, kamu bisa menikmati Taiwan dengan tenang—dan pulang tanpa trauma saldo.
wisata musim semi di Jepang selalu punya daya tarik yang sulit ditolak: udara mulai hangat,…
Berburu kuliner malam Bali punya sensasi yang berbeda: udara mulai sejuk, langit menutup hari dengan…
Kalau kamu sedang mencari cara liburan yang santai, hemat, dan tetap terasa “berkelas”, wisata kereta…
Berbicara tentang wisata rasa di Timur Indonesia, satu nama hampir selalu memancing rasa penasaran: ulat…
Kalau kamu sedang merencanakan liburan ke Surabaya, Malang, Banyuwangi, atau Madura, satu agenda yang wajib…
Mau liburan singkat tapi tetap berasa “komplet”? itinerary Malang Bromo 3 hari adalah salah satu…