Street food Manila memang menawarkan pengalaman kuliner yang berbeda dan penuh warna. Begitu melangkah ke jalanan kota ini, aroma rempah, santapan sederhana, dan keramaian pedagang kaki lima siap menyambut. Jika Anda penggemar petualangan kuliner, mencicipi street food Manila adalah kegiatan wajib saat bepergian ke Filipina!
Ragam Ragamasi
Dari camilan manis hingga lauk pauk berempah, street food Manila menghadirkan ragam cita rasa: gurih, manis, pedas, bahkan asam segar—semuanya dipadu dalam sajian cepat dan praktis.
Pengalaman Lokal Asli
Selain memanjakan lidah, mencicipi makanan jalanan berarti berinteraksi langsung dengan penjual, merasakan budaya kawalan dalam bentuk kuliner yang autentik.
Isaw adalah sate usus ayam yang dibersihkan, direbus, lalu dibakar dengan bumbu manis dan gurih. Disajikan di tusuk sate, dengan saus cocolan dari vinegar (cuka) atau saus pedas khas Filipina, cocok bagi pecinta jajanan tradisional.
Telur bebek rebus yang dilapisi adonan oranye dan digoreng krispi. Biasanya disajikan dengan saus kacang atau saus acar pedas. Teksturnya crunchy luar lembut dalam.
Camilan berupa bola ikan atau cumi goreng dibakar atau digoreng garing. Disajikan bersusun dari tusuk sate, dicocol saus manis, pedas, atau asam segar dari vinegar. Ini adalah salah satu ikon street food Manila.
Mungkin paling kontroversial, balut adalah telur bebek berisi embrio yang direbus dan disantap langsung dari cangkang. Cocok untuk Anda yang mengejar pengalaman kuliner ekstrem. Rasa kaldu dan teksturnya unik.
Untuk penutup, Anda wajib mencoba banana cue—pisang tanduk goreng karamel dengan gula merah dan sedikit garam—dan turon, lumpia manis isi pisang dan kadang durian. Keduanya manis, hangat, dan selalu memuaskan!
Minuman penutup hangat dari tahu sutra (soft tofu) dengan sirup brown sugar dan sago pearl. Dijajakan di pagi atau sore hari dari panci besar, sangat menyegarkan sekaligus mengenyangkan.
1. Binondo – Chinatown Street Food
Mulai dari Lucky Chinatown atau Ongpin Street, coba jajanan seperti hopia, tanghulu, Siopao (bun kukus isi daging), serta cakue dengan saus bawang putih.
2. Malate & Ermita
Kampung wisata malam yang ramai di malam hari. Banyak pedagang menjual fishball, kwek‑kwek, siomai (pangsit kukus), dan minuman hangat seperti taho atau kopi tradisional.
3. Quiapo Market
Spot lokal yang padat dan ramai, ramah untuk eksplorasi kuliner murah meriah. Cobalah isaw, puso (nasi dalam daun pisang), dan camilan goreng yang bervariasi.
Harga yang relatif lebih murah dan ukuran porsi besar membuat street food Manila lebih ramah di kantong dibanding kota seperti Bangkok atau Kuala Lumpur. Ciri khas rempah Filipina, seperti bawang putih, cuka manis, dan lada, menghadirkan rasa khas berbeda dari versi Indonesia atau Thailand.
Ketika kembali ke Indonesia, Anda bisa berbagi cerita kawan, teman, atau keluarga tentang keragaman street food Manila. Jadikan hal ini sebagai inspirasi untuk eksplorasi kuliner lokal di Indonesia, seperti youtiao atau cilok. Street food Manila menunjukkan bahwa makanan sederhana sekalipun bisa jadi pengalaman budaya mendalam dan menggugah selera.
Baca Juga: Menjelajahi Lezatnya Street Food Hanoi: Petualangan Kuliner Tak Terlupakan
Kalau kamu sedang merencanakan liburan ke Malaysia, wisata sejarah George Town Penang adalah pilihan yang…
Demam K-Drama dan K-Pop bikin banyak orang makin penasaran berburu kuliner korea jakarta. Kabar baiknya,…
Bayangkan bangun pagi dengan udara sejuk pegunungan, suara burung yang jelas, lalu membuka pintu tenda…
Sulawesi dikenal sebagai salah satu kawasan di Indonesia yang punya tradisi kuliner kuat, berani, dan…
Kalau kamu suka kota yang bisa “dibaca” seperti buku sejarah lewat bangunannya, wisata arsitektur Prague…
Kalau kamu cuma punya waktu singkat, wisata sehari di Kuala Lumpur tetap bisa terasa “penuh”…